#08

Dengan langkah yang terkesan buru buru, Aileen mencoba untuk menetralisir rasa gugupnya dengan mengusap dada yang terasa bagaimana cepatnya jantung yang berdetak.

Ia tersenyum kala melihat tiga pegawai baru yang duduk di sofa depan ruang Human Resource sedang berbincang kepada satu sama lain.

“Halooo” sapa Aileen yang membuat ketiganya berdiri seketika, membungkuk dengan hormat.

“Aku Aileen Kirania, dari tim HR, akan jadi orang yang ngelatih kalian selama masa training

Seorang pemuda dihadapannya kini tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya, “saya Maraka Nagaswara.”

“Saya Geanino, tapi panggil Nino aja.”

“Faza Ananda, bu Aileen bisa panggil saya Faza saja.”

Setelah masing masing saling mengenal, Aileen segera memberikan beberapa lembar kertas kepada satu pemuda dan dua gadis dihadapannya.

“Kalian pahami materi ini dulu, selanjutnya kita praktik abis makan siang.” Ucap Aileen yang di angguki oleh ketiganya.

Saat ia hendak meninggalkan, suara Maraka membuat ia kembali menghadap mereka,

“Kenapa, Mar?” “Ehh, saya bisa minta nomor ponsel nya Bu Aileen? Maksudnya, biar nanti gampang buat konfー”

“Gak papa, hahaha, dan, panggil aku Mbak aja, jangan Bu, terkesan aku keliatan tua banget, padahal beda beberapa tahun aja.” Kekeh Aileen sembari mengetikkan nomor ponselnya diatas benda pipih milik Maraka.

“Kalo gitu, aku tinggal dulu ya, materinya tolong pahami bener bener, nanti aku tanya satu satu.” Ucap Aileen dengan nada gurauan, lalu meninggalkan ketiganya yang sibuk membuka materi yang telah ia berikan.


Ada seringaian tercetak samar kala Aileen menghilang dibalik pintu yang sedikit tertutup,

Pretty, as always...


Aileen berjalan kearah dapur dengan wajah yang terlihat suntuk, hhhh lagi lagi, Mbak Dian bikin dia banyak tugas padahal harus ngelatih karyawan baru juga.

Ia segera menyeduh kopi dengan tatapan kesalnya, berulang kali juga ia menghela nafas hingga tepukan di bahunya hampir saja membuat kopi yang sudah ada ditangan jatuh.

“ASAAAAA! AH! KOPI GUE MAU JATOH NIH!” bentak Aileen yang membuat Angkasa berdecak pelan.

“Lu nya aja yang lebay.”

“Lebay apaan sih?! Tau ah! Bukannya minta maaf, malah ngeledek!”

Sang lelaki memutar bola matanya dengan malas, “iyeiyeeee minta maap atuh geulis....

“TELAT!”

“Gak ada yang namanya minta maaf tuh telat, blegug

“Kan! Lo mah emang gak niat minta maaf!”

“Gua niat?!”

“BOHONG!”

“Ck! Lu ngapa sensi sih? Biasanya juga lu yang ngeledek gua duluan, ih iyiikkk, kimi mii kiminiiii” kata Angkasa sembari menirukan gaya Aileen saat meledek dirinya.

Sang gadis hanya memutar bola matanya, lalu menyandarkan pinggangnya di meja pantry.

“Jaja ngapain, Sa?” Tanya Aileen seraya melihat Angkasa yang mulai menyeduh kopi.

“Ngapain ya? Tadi ada itu, siapa sih, tetangga baru lo, masuk ke ruangan dia,”

Jika saja Angkasa tidak cepat cepat kembali menjelaskan, mungkin kini Aileen sudah tersedak kopi panas.

”...sama tiga orang lagi, kayaknya karyawan baru, disuruh pelatih nya kali.”

Aileen terdiam, ia kembali mengingat bagaimana cara Jayandra menatap Aruna saat pagi tadi.

Merasa ada perubahan mimik wajah, Angkasa terlihat gelagapan, namun dengan cepat juga ka menetralkan raut wajahnya itu.

“Kenape lu? Cembokur?” Aileen menoleh, “kagak, apaan dah.” Jawabnya sembari kembali meminum kopi nya yang tinggal setengah.

Angkasa terkekeh, “gua tadi liat lu ama Jay peluk pelukan di depan lift, hahaha, kenape? Masalah tuh cewek ye?”

Aileen menatap sinis pada Angkasa, “kepo dah lu, ini masalah rumah tangga, lu gak boleh tau, soalnya jomblo.”

“Kambing. Gua ama lo beda 3 tahun ye! Gak sopan.”

“Bodo.”

Keduanya terdiam, menikmati kopi sambil melihat beberapa karyawan yang sibuk dengan urusan masing masing.

“Btw, kok lo ke dapur lantai 4 sih?”

“Pengen aja.”

“Pengen ketemu gue maksud lo?”

Angkasa menoleh, “iya.” Ucapnya dengan netra yang menatap tajam kearah Aileen.

“Anjing serem.... Ada om pedo...”

“HAHAAAHAH! Kurang ajar lo!”

Gadis dengan rambut yang di kuncir kuda itu meneguk habis kopinya, lalu bersedekap dada, menatap Angkasa yang kini memainkan gelas kopi.

“Seriusan, kenapa?”

“Ada Tera.”

“Hah? Terus kenapa kalo ada dia? Lu demen?”

Terlihat sahabat pacarnya ini meletakkan gelas kopinya diatas meja.

“Tera tuh, mantan gue.”

“SERIUS?!”

“Ya.. lu baru tau ya?”

“Iya anjir... Wah parah.. pacaran pas kapan?”

“Pas kuliah.”

“Putus gegara?”

“Dia selingkuh.”

“HAH?!”